|
Pembinaan Bahasa, Sastra dan Aksara Bali Tahun 2010
Bahasa Bali sebagai Bahasa Daerah Bali yang berkembang di masyarakat Bali maupun masyarakat Hindhu yang ada di Indonesia. Bahasa Bali telah diyakini sebagai langkah awal dalam mempelajari budaya dan agama Hindhu Bali. Bahasa Bali diyakini sebagai dasar Tetuek dalam memahami dasar – dasar philosopi agama dan kebudayaan Bali, mengingat keaslian dan filsafat – filsafat ilmu tentang eksistensi suatu wawasan agama dan budaya Bali masih ditulis dalam bentuk aksara Bali.
Berbagai ilmu pengetahuan tentang agama dan budaya Bali masih tertahan / tersimpan pada seni sastra ( aksara ) kuno yang terdapat pada lontar – lontar kuno Bali. Mengingat dalam kenyataannya Aksara Bali sudah dimulai pada ratusan tahun yang lalu,sehingga banyak peneliti – peneliti asing yang melakukan penelitian tentang sastra Bali guna mendapatkan informasi yang benar tentang agama dan kebudayaan Bali.
Perjalanan bahasa Bali hingga bertahan sekarang ini mengalami perjalanan yang sangat panjang. Bahasa Bali juga merupakan salah satu bahasa terbesar yang ada di dunia selain bahasa seperti bahasa China, bahasa Arab, bahasa Melayu dan bahasa – bahasa lainnya. Bahasa Bali disamping mampu memberikan wawasan tentang agama dan budaya, juga dalam kesusastraan Bali mampu memberikan nilai Estetika ( keindahan ) yang menyebabkan sesoran terpana, juga mampu sebagai penuntun dalam kehidupan ( Etika ) . Juga bahasa Bali mampu memberikan tatanan wawasan berprilaku yang terstruktur ( Logika ).
Memperhatikan perkembangan budaya Bali yang tidak bisa menghindar dari arus globalisasi, sadar maupun tidak disadari bahwa bahasa dan Aksara Sastra Bali sudah mengalami pengkikisan baik secara lisan maupun secara fisik. Secara lisan banyak kosa / pembendaharaan bahasa Bali yang hilang dalam percakapan pergaulan sehari – hari, sedangkan secara fisik, lontar – lontar kuno yang menyimpan segudang informasi, juga telah banyak yang rapuh, tanpa mampu dibikinkan duplikat ( copy nya ).
Kekhawatiran atas menghilangnya dan semakin terpuruknya bahasa Bali bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan memang bahasa Bali, Aksara Sastra Bali, memang perlu diperhatikan dan diberikan porsi untuk tetap bisa dipertahankan dan dilestarikan. Bahkan ada pendapat dari seorang tokoh sastrawan dan budayawan dari Sulawesi yang menulis disebuah harian surat kabar yang menyampaikan tentang bahasa – bahasa daerah yang tumbuh dan berkembang di bangsa Indonesia sudah banyak dipengaruhi oleh bahasa – bahasa asing. Sehingga keberadaan bahasa – bahasa daerah akan dikhawatirkan lenyap dan menghilang

Harapan :
Pelestarian Bahasa, Sastra dan Aksara Bali semakin diperlukan, oleh karena itu perlu dorongan, dukungan, dan perhatian semua pihak terhadap bahasa dan kesusastraan Bali. Pemerintah provinsi Bali dalam hal ini Dinas Kebudayaan Provinsi Bali senantiasa memfasilitasi melalui program – program yang mengarah pada pembinaan dan pelestarian sastra / bahasa Bali.
Pada tahun 2010 ini, Dinas Kebudayaan provinsi Bali melakukan pembinaan bahasa, aksara dan sastra Bali ke seluruh kota / kabupaten se Bali, yang dipusatkan di 3 kabupaten yakni Gianyar, Badung dan Tabanan. Dengan menampilkan 3 makalah, oleh 3 orang narasumber yang diambilkan dari Badan Pembinaan Bahasa, Sastra dan Aksara Provinsi Bali.
Saran: Hendaknya dalam percakapan sehari-hari baik di kantor-kantor pemerintah/swasta, sekolah-sekolah,dan di Perguruan Tinggi mengunakan Bahasa Bali
|